Peristiwa

Hujan Deras Picu Tujuh Bencana di Trenggalek, Longsor hingga Pohon Tumbang

Hujan Deras Picu Tujuh Bencana di Trenggalek, Longsor hingga Pohon Tumbang

TRENGGALEK –RI Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur Kabupaten Trenggalek dalam beberapa hari terakhir memicu tujuh kejadian bencana alam di lima kecamatan. Bencana tersebut meliputi tanah longsor, kerusakan infrastruktur, hingga pohon tumbang yang sempat mengganggu akses lalu lintas.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono, mengatakan bahwa dalam kurun waktu 24 jam terakhir terdapat empat kejadian tanah longsor dan kerusakan infrastruktur serta tiga kejadian pohon tumbang.

“Selama 24 jam terakhir kejadian bencana tanah longsor dan kerusakan infrastruktur terjadi di empat lokasi,” kata Triadi.

Kejadian pertama berupa longsornya tembok penahan tanah (TPT) di halaman SDN 2 Pandean, Kecamatan Dongko. Tembok sepanjang 10 meter dengan kedalaman longsoran sekitar 3 meter tersebut dikhawatirkan mengganggu aktivitas di lingkungan sekolah.

Bencana kedua terjadi di Dusun Joketro, Desa Nglebeng, Kecamatan Panggul. Talud penahan tebing di ruas jalan setempat mengalami longsor sepanjang 12 meter dengan ketinggian sekitar 10 meter.

Kerusakan tersebut mengancam akses jalan rabat beton yang berada di atas talud. Jika tidak segera ditangani, longsoran dikhawatirkan semakin meluas dan menggerus badan jalan.

Selanjutnya, tanah longsor terjadi di Dusun Buloto, Kecamatan Kampak. Tebing di belakang rumah warga bernama Komari longsor dan materialnya menimpa dinding dapur hingga jebol.

Beruntung, peristiwa tersebut tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka. Seluruh penghuni rumah dipastikan selamat.

Sementara itu, kejadian keempat berupa kerusakan infrastruktur terjadi di Jembatan Nayu, Desa Karangturi, Kecamatan Munjungan. Salah satu tiang penyangga utama jembatan ambrol akibat tergerus arus sungai.

Triadi menjelaskan, kerusakan tersebut berpotensi mengganggu kekuatan konstruksi jembatan. Untuk mengantisipasi risiko yang lebih besar, akses jembatan sementara ditutup.

“Kerusakan tiang penyangganya ini mengakibatkan kekuatan jembatan menjadi terganggu. Saat ini akses jembatan ditutup sementara untuk meminimalkan kerusakan yang lebih parah,” jelasnya.

Selain tanah longsor dan kerusakan infrastruktur, hujan deras disertai angin kencang juga mengakibatkan tiga kejadian pohon tumbang di sejumlah ruas jalan utama.

Pohon trembesi berdiameter sekitar 110 sentimeter tumbang di Desa Kendalrejo, Kecamatan Durenan, hingga menutup jalan nasional. Dalam kejadian tersebut, seorang pengendara sepeda motor tertimpa pohon dan mengalami luka lecet serta memar pada bagian kaki.

Pohon tumbang berikutnya terjadi di ruas jalan nasional Dongko-Panggul, tepatnya di Desa Ngrencak, Kecamatan Panggul. Sejumlah pohon jenis akasia, pinus, dan juar dilaporkan tumbang ke badan jalan.

Kejadian serupa juga terjadi di jalur menuju Pasar Agro Kampak. Seluruh kejadian pohon tumbang tersebut telah berhasil ditangani petugas sehingga akses lalu lintas kembali normal.

“Pohon tumbang terakhir di jalur menuju Pasar Agro Kampak. Saat ini seluruh kejadian telah teratasi dan akses jalan kembali lancar,” ungkap Triadi.

Triadi menambahkan, rangkaian bencana tersebut terjadi di tengah meningkatnya dampak cuaca ekstrem di wilayah Trenggalek. Sehari sebelumnya, puluhan rumah warga di Kecamatan Munjungan dilaporkan mengalami kerusakan akibat tanah longsor. Curah hujan tinggi juga memicu banjir yang merendam sejumlah sekolah dan rumah warga di wilayah tersebut.

Terkait kondisi cuaca, Triadi menyebutkan bahwa berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan deras yang terjadi dalam beberapa hari terakhir dipengaruhi dinamika atmosfer Madden-Julian Oscillation (MJO) dan gelombang Rossby ekuatorial.

Kedua fenomena atmosfer tersebut berpengaruh terhadap proses pembentukan awan hujan. Kondisi atmosfer yang mendukung terjadinya hujan diperkirakan masih berlangsung hingga tiga hari ke depan.

“Menurut BMKG, hujan deras beberapa hari terakhir diakibatkan oleh gangguan atmosfer yang berasal dari dinamika atmosfer MJO dan Gelombang Rossby ekuator yang merupakan fenomena atmosfer yang dapat memengaruhi pembentukan awan hujan. Kondisi ini masih berlanjut hingga tiga hari ke depan,” paparnya.

Sementara itu, terkait pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), Triadi menjelaskan bahwa efektivitas penyemaian awan hanya berdampak pada wilayah yang menjadi sasaran operasi.

OMC tersebut dilaksanakan pada 24-29 Oktober dengan wilayah penyemaian meliputi kawasan Gunung Arjuno-Welirang, Gunung Argopuro, dan TPA Supit Urang.

BPBD Trenggalek mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, terutama tanah longsor dan pohon tumbang, mengingat curah hujan tinggi masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan.(sas.p)

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *